Bejamu Saman

Bejamu Saman

  Tari Saman

Bejamu Besaman

Bejamu saman adalah sebuah acara kesenian yang sudah membudaya di daerah Gayo, bejamu besaman ini dilakukan dengan cara mengundang masyarakat kampung lain agar datang kekampung yang mengundang untuk sama-sama  menampilkan tari saman secara bergantian, namun dalam pelaksanaanya kedua kampung ini akan mempertunjukkan kehebatannya secara bergantian. Biasanya untuk yang pertama kali mendapatkan kesempatan mempertunjukkan kehebatannya (memangka) adalah kampung yang mengundang (sukut sepangkalan)  sedangkan kampung yang diundang (jamu) akan meniru gerakan yang dimainkan oleh sukut sepangkalan yang biasa disebut dengan ngging, setelah sukut sepangkalan selesai memangka sesuai dengan waktu yang disepakati maka giliran memangka adalah tamu (jamu) dan begitu seterusnya selama pelaksanaan bejamu besaman tersebut.

Karena pada zaman dahulu di daerah Gayo tidak banyak  hiburan-hiburan, maka tari saman merupakan salah satu pilihan yang dijadikan sebagai hiburan. Selain dari pada hiburan fungsi saman bejamu adalah untuk menjalin tali silaturrahmi antara masyarakat kedua kampung itu, bahkan acara ini juga dapat menjadi media komunikasi antara pemuda dan pemudi.

Dalam acara saman bejamu gerakan yang ditampilkan adalah gerakan yang sulit dan biasanya variasi satu gerakan ( yang dalam istilah saman disebut lagu) sangat panjang dan beraneka ragam. Tujuan mencari gerakan yang bermacam-macam ini agar lawan tidak mudah mengikuti gerakan yang ditampilkan. Hal ini disebabkan oleh salah satu penilaian hebat atau tidaknya kelompok lawan mengikuti gerakan yang ditampilkan oleh lawan main( lihat aturan permainan saman). Oleh karena itu, pemain saman mempersiapkan gerakan yang bermacam-macam dalam latihan untuk menghadapi suatu pertandingan.

Dalam saman bejamu, para pemain yang memangka( istilah kelompok yang yang sedang membawakan gerakan dan lagu) pada awalnya menampilkan gerakan yang agak sederhana dan juga rapi. Hal ini tujuannya untuk menjajaki kemampuan lawan untuk mengikutinya. Jika ternyata gerakan yang masih sederhana ini tidak bisa diikuti lawan yang mengikutinya belum kompak, komandan kelompok (penangkat) belum mengubah gerakan (lagu) yang ditampilkan. Akan tetapi, jika lawan sudah mampu mengikutinya dengan baik, pihak yang memangka dengan cepat mengubah gerakan menjadi gerakan yang lebih sulit.

Jika komandan kelompok (penangkat) kurang jeli melihat gerakan yang ditampilkannya sudah dikuasi oleh lawan, para anggotanya mengingatkan dengan nyayian-nyayian selingan kepada komandan bahwa gerakan yang ditampilkan sudah dikuasi lawan. Peringatan anggotanya seperti “ lelacapen bentuk Cine lelacapen” artinya, wah cepat sekali lengkung cina, wah cepat sekali ( yang dimaksud dengan lengkung cina adalah mata pancing). Dengan demikian, penangkat akan sadar bahwa gerakan sudah dapat diikuti lawan maka dengan cepat pula dia menukar gerakan yang ditampilkan.

Komandan kelompok atau penangkat sering juga mencari strategi dengan cara cepat mengubah gerakan agar tidak mudah dikuasi lawan dan beberapa waktu kemudian kembali lagi pada gerakan yang sudah pernah ditampilkan, jadi, seorang penangkat harus mempunyai strategi untuk mengecoh lawan agar tidak mudah mengikuti gerakan yang ditampilkan. Jika strategi ini tidak mampu mengatasi kelihaian lawan, biasanya kelompok masing-masing memiliki gerakan “ simpanan” yang hanya ditampilkan dalam keadaan mendesak. Artinya, setiap kelompok mempunyai lagu (gerakan) pamungkas sebagai pelindung terakhir dari kekalahan dalam pertandingan. Kelompok yang mahir dalam tarian saman kadang-kadang memiliki beberapa gerakan pamungkas sehingga tidak mudah dikalahkan lawan dalam pertandingan.

Ini adalah pertunjukan Bejamu Saman yang baru-baru ini digelar dalam pembukaan Festival Budaya Saman di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, DKI Jakarta


Saman jalu antar kampung yang lebih dikenal dengan istilah bejamu besaman dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu :

  • Saman Sara Ingi (satu malam), Saman sara ingi dilakukan semalam suntuk dengan cara bergantian memangka (melakonkan lagu) antara sukut sepangkalan  (tuan rumah) dan jamu (tamu) yang biasanya untuk memangka dimulai oleh sukut sepangkalan. Saman sara ingi ini biasanya dilakukan hanya pada Hari Raya Aidil Fitri, Hari Raya Aidul Adha dan Maulid Nabi Muhammad SAW.
  • Saman Roa Lo Roa Ingi (dua hari dua malam), Saman roa lo roa ingi dilakukan selama dua hari dua malam secara terus menerus dengan cara bergantian memangka (melakonkan lagu) antara sukut sepangkalan  (tuan rumah) dan jamu (tamu) yang diselingi dengan tarian bines untuk menghibur para penari saman yang sudah kelelahan. Seperti yang telah diutarakan di atas kedua belah pihak saling menunjukkan kemampuannya masing-masing untuk mengalahkan pihak lawan yang dinilai langsung oleh penonton.

Didalam pelaksanaan saman jalu seluruh konsumsi dan akomodasi ditanggung oleh pihak sukut sepangkalan  (tuan rumah) selama dua hari dua malam.

Sumber: lintasgayo.co dan berbagai sumber lainnya.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial

Facebook

Kontak

Subscribe

Back to Top